Sotoy Review : Buya Hamka by A Fuadi

Mei 27, 2023



Buya Hamka by Ahmad Fuadi
My rating: 5 of 5 stars

Buku ini telah saya beli pada terbitan pertama di 2021. Waktu itu saya belinya berbarengan dengan buku terbaru dari ES Ito, Komsi Komsa. Keduanya diterbitkan oleh Falcon Publishing. Saya beli melalui toko Republik Fiksi di tokopedia. Namun ketika packet dari republik Fiksi sampai, saya cukup kaget karena ternyata dikasih 2 buku gratis yang ditulis oleh Fahd Pahdepie. Kemudian, selama hampir 1,5 tahun buku bertengger di lemari buku kami dengan kondisi masih berplastik.

Barulah di bulan puasa kemarin, ketika Falcon telah mengumumkan bahwa Film Buya Hamka yang mereka produseri akan tayang di bioskop pada lebaran 1444 hijriah ini, saya membulatkan tekad untuk menyelesaikan buku ini Sebelum nonton filmnya di bioskop. Kalau saya tidak salah, dan mohon koreksi jika salah, naskah film Buya Hamka yang disutradarai oleh Fajar Bustomi adalah pengembangan dari Buku ini. Atau munchkin sebaliknya ya?. Pokoknya mereka berkaitan.

Seperti yang terekam di jejak goodreads ini, saya sudah membaca beberapa karya Buya Hamka dan beberapa biografinya. Ketika Buku ini dirilis, Uda Fuadi menyampaikan Buku ini Akan sedikit berbeda dengan biografi Buya Hamka lainnya meski cerita tentang sejarah, ilmu, adab, dan kesabaran Buya Hamka telah masyhur kits dengar. Dan saya mengakui bahwa klaim itu benar dan terbukti.

Penulis mengambil sudut pandang orang ketiga sehingga lebih leluasa dalam menceritakan kejadian. Corak penulisan melayu a la uda Fuadi masih sangat terasa dan pas on the point, tidak lebih tidak kurang. Alurnya pun mengikuti lini masa dari kehidupan Buya Hamka semenjak kecil hingga akhir hayat. Meski alur waktunya lurus kedepan, pembaca tetap dapat menikmati emosi naik turun. Hal tersebut dapat terjadi bulan karena kisah hidup Buya Hamka yang memang begitu, tetapi lebih banyak kepada andil Uda Fuadi dalam memilih cuplikan kejadian dan kemudian mengurai narasi dengan baik.

Namun, buku ini tidak tanpa cela. Salah satu detail yang menurut saya agak mengganggu adalah tentang mata uang. Jadi di ban tentang kisah Buya Hamka Muda yang sedang "jalan-jalan/belajar" di Jawa bareng kakak iparnya, Sutan Mansur, circa 1920 an. Beliau diceritakan mendaftar ke organisasi Syarikat Islam. Diceritakan bahwa Beliau membayar uang pendaftaran sebesar 1 rupiah. Padahal kita tau bahwa rupiah baru menjadi mata yang di Indonesia setelah Indonesia merdeka pada 1945. Saya yakin penulisan mata yang rupiah tersebut hanya salah tulis Karen di bab-bab berikutnya dimana Buya mulai bekerja dan menerbitkan surat kabar, uda Fuadi sudah menggunakan mata uang Gulden.

Anyway, Buku ini ternyata sangat pas dibaca sebelum menonton film Buya Hamka karena dapat memberikan gambaran sisi Buya Hamka mana yang diceritakan dan hikmah apa yang bisa dipetik.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.