Cerita Fiksi

Februari 25, 2020
LAST UPDATE 3 JULY 2020

Sebuah Pengantar

Akhir-akhir ini, saya sangat bersemangat untuk mewujudkan salah satu mimpi masa kecil yang sering terlintas dikepala, meskipun semangat tersebut sering hilang lagi trus bangkit lagi trus hilang lagi. Mimpi itu adalah menulis sebuah novel  seperti yang dilakukan idola-idola saya, Raditya Dika, A Fuadi, Andrea Hirata, Ustad Salim, atau JSK. Tujuannya hanya ingin berbagi pengalaman saja, karena tidak mungkin menginspirasi seperti para idola tadi.

Semangat tersebut saya limpahkan dengan membaca buku novel lebih banyak, beli buku "cara menulis novel", dan ikut kelas pelatihan menulis online. Semua usaha tadi juga seperti semangat saya, ilang timbul, lebih sering ilangnya.

Kunci berkarya itu dimulai saja walaupun hasilnya pasti jelek, kata Pandji kepada siapapun untuk untuk yang masih mikir-mikir untuk berkarya.

Akhirnya saya putuskan untuk mencicil "karya" ini di media penulisan wattpad.com. Jika teman-teman berkenan, mari baca "karya" yang dicicil ini.

Kambing Jantan nya Raditya Dika adalah inpirasi dari "karya" ini. Cerita yang saya tulis merupakan kejadian yang saya alami dengan sedikit penambahan gaya penulisan baik majas maupun teknik lainnya. Beberapa nama dan lokasi sengaja saya plesetkan agar tidak melanggar hak cipta dan perizinan.

Jika teman-teman berkenan, dapat kiranya memberi saran baik yang membangun atau tidak agar "karya"  ini dapat lahir sesuai apa yang saya impikan.

Heheheh
------------------------------------------------------------------------------------------

Selain Cerita bersambung "Laporan Perjalanan Dinas" yang telah saya cicil dari beberapa bulan lalu dan dapat dibaca dibawah ini, saya juga mencoba menulis cerita pendek dengan judul "Dilema Zaman Perjuangan" yang dapat dibaca pada postingan di blog ini pada Juli 2020 atau di wattpa.com. 

Nuhun

Baca: Dilema Zaman Perjuangan
    
-------------------------------------------------------------------------------------------


LAPORAN PERJALANAN DINAS


1. Pertama

Jarum pendek jam dinding di ruangan kerja kami hampir menyentuh angka 2 dan saya masih belum beranjak dari meja yang baru saya tempati kurang dari 2 minggu ini. Padahal, saya dan bos harus mengejar pesawat dengan jadwal take off 15.10 dengan tujuan Bandara Depati Amir Bangka dalam rangka perjalanan dinas dan ini adalah pengalaman pertama saya. Alasannya karena bos saya masih menerima tamu di ruangannya. Baru pada pukul 14.05, Pak Saragih keluar ruangan dengan terburu-buru dan teriak-teriK panggil nama saya untuk segera turun ke bawah dan jalan ke Bandara Soekarno Hatta dengan mobil pribadinya yang telah dilengkapi dengan supir pribadi juga.


Praktis kami cuma punya waktu satu jam kurang sebelum ditinggal pergi duluan oleh pesawat yang kami tumpangi. Pak Saragih memerintahkan Pak Supir, saya lupa nama pak sopirnya karena sopir beliau sering ganti, untuk mengambil rute lewat toll dalam kota dan masuk dari Pintu toll semanggi. Saya baru dua minggu saja merasakan hawa panas Cikini, alamat kantor kami, hanya bisa mengiyakan dan setuju dengan semua pilihan rute Pak Saragih.


Dan 20 menit perjalanan, kami sudah tertahan macet di Jalan Sudirman. Pak Supir menghidupkan "Mode Mengemudi Bajaj" nya dan nyelap-nyelip di antara barisan mobil yang sabar menetap di jalurnya. Saya sudah mengikhlaskan semua kemungkinan terburuk yang terjadi, termasuk dialihkan ke penerbangan berikutnya atau malah gagal berangkat.


Pukul 14.30, kami sudah masuk tol dalam kota dari pintu tol semanggi. Pak Supir menginjak pedal gas sangat dalam hingga kecepatan 120km/jam hingga badan saya nempel dengan kencang ke kursi, seperti naik wahana di Ancol. Alhasil, kurang dari 15 menit, kita sudah sampai pintu tol Bandara. Harapan kembali memuncak hanya untuk sesaat saja karena ternyata antrian pintu tol Bandara juga tidak lancar. Kembali dengan Mode Bajaj nya, Pak Supir mencoba menyelamatkan nasib bos nya yang sebenarnya tampak santai saja dari tadi. Saya yang duduk di sebelah Pak Supir sudah mulai berkeringat dingin.


Alhamdulillah, Kami dapat turun di Pintu keberangkatan 2F, T3 waktu itu belum ultimate, pada pukul 14.55. Dengan berlari-lari kami menuju konter check-in Gold Member yang sudah kosong, karena Pak Saragih sudah Gold Member kala itu. Kata petugasnya, para penumpang sudah boarding dan nama kami sudah dipanggil melalui pengeras suara se antero Bandara, untung kami sudah check-in online sebelumnya. Alhamdulillah, kami masih bisa naik ke pesawat dengan berlari-lari dari counter check in ke pintu garbarata. Dengan nafas yang terengah-engah, saya hanya bisa mengucap syukur kepada Allah Subhana WaTa'ala. Pesawat yang kami tumpangi take off tidak begitu lama dari jadwal seharusnya.


Ini bukanlah kali pertama saya naik pesawat plat merah langganan aparatur sipil ini, jadi saya tidak terlalu canggung bagaimana harus bersikap. Kurang dari satu jam, kami mendarat dengan aman di Bangka di sore yang indah itu.


Kami ke Bangka dalam rangka menghadiri sebuah hajatan dari lembaga negara lainnya yang mengadakan sosialisasi, Pak Saragih hadir sebagai pembicara dan saya mendampingi beliau. Karena sebagai pembicara, beliau, dan saya yang selalu mengekor, dijemput dari Bandara oleh panitia dan sudah disiapkan kamar hotel untuk menginap.


Itu adalah kali pertama saya menginap di hotel berbintang 4 di Indonesia jadi saya banyak kurang ngerti tentang bagaimana cara menggunakan beberapa item yang disediakan hotel. Ketika masuk kamar yang masih gelap, saya mencoba menekan saklar lampu yang persis menempel di dinding di depan pintu kamar ketika terbuka, namun lampunya tetap tidak menyala. Pak Saragih lah yang menunjukan hebatnya kartu yang diberikan Mbak Resepsionis, bisa buka pintu kamar dan menyalakan lampu kamar. Sebagai melenial melek teknologi, saya malu untuk mengakui momen ke-katro-an itu. 


Kalau saarapan ala  buffet sebenarnya bukan hal yang baru bagi saya karena beberapa bulan sebelumnya saya sudah pernah juga nginap dengan hotel sarapan buffet. Tapi tetap saja, saya canggung dalam memilih urutan makannya. Kalau ikut saran ahli gizi, maka makanan yang dimakan diawal adalah buah-buahan dilanjutkan makanan tinggi karbo. Tapi kalau liat orang-orang yang berpakaian rapi pagi itu, sarapan mereka gak berutan. Akhirnya, demi jaga image, saya makan sesuai tuntunan ahli dengan porsi jaim juga.


Acara yang kami hadiri dilaksanakan di hotel yang sama dengan tempat kami menginap. Meski ini adalah perjalanan dinas pertama saya dan langsung bertugas mendampingi atasan, saya sudah memiliki bayangan tentang apa apa yang harus saya lakukan karena sudah di briefing oleh senior sebelum berangkat. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan saya banyak belajar tentang bagaimana harus bersikap dan apa yang harus saya lakukan ketika menghadiri acara seperti ini. 


Pengalam perjalanan dinas pertama saya yang sangat nano-nano dan berharga bagi saya dengan segala drama nya.


Btw dramanya masih berlanjut ketika kami pulang, Pak Saragih yang membeli oleh-oleh berupa kerupuk khas Bangka menitipkan saya untuk membawanya ke kantor. Ketika sampai kemudian turun pesawat  di Cengkareng, tepatnya di area pengambilan bagasi, saya baru teringat meninggalkan oleh-oleh tersebut di tempat penyimpanan di atas kabin. Saya berlari balik ke arah parkir pesawat, di depan pintu saya dicegat petugas dan dibilangin bahwa barang yang tertinggal harus diambil di tempat lost n claim. Alhasil, saya menghabiskan dua jam buat menyelamatkan oleh oleh buat teman teman di kantor.


2.  Sales Promotion Boy


Salah satu syarat wajib seorang cpns untuk menghapus c dan menjadi pns 100% adalah lulus diklat prajabatan. Di kantor sy waktu itu, ada dua pilihan lokasi diklat yang dilaksanakan barengan, Bandung dan Cepu. Kebetulan saya diperintahkan untuk diklat di Cepu. Kebetulan juga angkatan saya juga merupakan angkatan pertama yang merasakan sistem diklat prajabatan baru yang intinya adalah aktualisasi nilai-nilai aneka di aktivitas kantor. Simpelnya, dengan sistem baru ini, peserta wajib mengimplementasikan nilai aneka di pekerjaan kantornya secara spesifik. 


Untuk menyusun rencana implementasi tersebut, saya berkonsultasi sama atasan dan teman di kantor tentang kegiatan yang akan kami laksanakan selama masa balik kantor nanti. Kebetulan pada masa off campus nanti, akan ada acara konferensi dan pameran eksibisi energi terbarukan yang menjadi acara rutin tahunan kantor kami. Fitri, teman satu seksi dan satu angkatan cpns dengan saya,memberi informasi bahwa berdasarkan hasil rapat pimpinan di kantor, saya kebagian tugas untuk menjaga booth kantor kami pada hari kedua acara. Sontak hati saya langsung berbunga karena jadwal tersebut pas dengan jadwal balik saya dari Cepu dan menyusun nilai-nilai aneka akan sangat mudah pada kegiatan "penjaga booth".


Yang nama diklat atau training, kalau gak drama gak seru. Drama yang saya alami datang 2 hari sebelum sidang proposal rencana implementasi dan proposal yang saya susun sudah jadi, bak petir di malam bolongi, Fitri kembali ngasih kabar kalau saya tidak jadi bertugas sebagai penjaga booth pada acara nanti. Berita yang mengacaukan proposal rencana implementasi yang sudah disusun dan mendapatkan approval pembimbing. Untungnya semua masih bisa dibicarakan, setelah mengadu ke atasan, akhirnya dapat kabar baik kalau rencana implementasi tersebut tidak perlu dirombak ulang, saya akan tetap jaga booth di pameran tersebut.


Hari yang dinanti pun tiba, Konferensi tersebut dibuka secara meriah oleh Presiden kita waktu itu dan saat itu saya masih di Cepu, baru akan berangkat malamnya ke Jakarta dengan kereta api karena jadwal saya menjadi petugas jaga mulai besok pagi.  Malam itu KA Sembrani mengantarkan saya kembali ke Jakarta setelah hampir 40 hari di Kota Minyak itu. Adzan Subuh belum datang, saya sudah sampai di Gambir. Setelah Sholat di stasiun Gambir, saya meluncur ke kantor kami di Cikini, rencananya untuk sedikit rebahan serta mandi dan berganti pakaian. Ini adalah pengalam pertama saya mandi di kantor yang untungnya memang disediakan di Ruang Olahraga kami.


Pameran eksebisinya baru akan dibuka pukul 09.00 dan saya sudah sampai di JCC Senayan pukul 8.  Selain beres-beres, kita juga harus briefing dulu untuk pembagian tugas dan apa-apa yang akan dijelaskan serta cara bagi-bagi seminar kitnya. Dan saya kebagian untuk menjelaskan cara kerja dari pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang kebetulan ada maket nya juga. Konon maket itu adalah pinjaman dari rekan peneliti di Bandung yang tengah mengembangkan pembangkit listrik  mikro hidro dengan teknologi turbin ulir yang masih jarang di Indonesia. Di maket tersebut ada aliran air terjun yang memutar turbin ulirnya, turbin ulir tersebut akan memutar generator yang menghasilkan listrik yang menghidupkan bola lampu. Sedangkan air dari bawah dipompa ke atas lagi pakai pompa air biasa yang dinyalakan pake listrik. Karena bentuknya yang unik, banyak yang melihat-lihat maket PLTMH Ulir, tipe orang nya juga beragam. Ada pejabat dari daerah, ada dosen kampus, dan ada juga anak-anak SD yang mencari seminar kit ilmu.


Yang nama nya anak-anak, kalo rame-rame pasti jiwa berandalnya muncul, apalagi kalo ada cewe cem-cemannya. Pas lagi nerangin apa itu pembangkit listrik ke teman-temannya yang berpenampilan jenius, gerombolan “Gadang Suaro” mulai nanya-nanya dengan suara keras dan pergerakannya mulai tidak terkendali. Dan ujug-ujug salah satu anak di gerombolan nakal itu mulai mencipratkan air, yang kebetulan dikasih pewarna hijau agar kelihatan, dari maket ke arah temannya dari gerombolan yang sama. Selanjutnya bisa ditebak, terjadi perang air diantara mereka yang diikuti teriakan “ayo ayo”. Saya yang tidak terlalu mengendalikan makhluk hidup ini, termasuk  hewan peliharaan, cuma bisa ikutan teriak “ayo ayo” juga, heheh, gak deng. Saya hanya bisa tersenyum dan berharap Si Ibu Guru yang mendampingi mereka dapat mengendalikan dua anaknya yang teridentifikasi terkena Sugar Rush ini. Untungnya kekacauan tidak menjalar lebih besar dan Si Ibu bisa menjinakan semua anak didiknya yang sudah mulai bosan saya rasa.


Siang menuju sore ketika pengunjung pameran sudah mulai sepi, datang lah seorang bapak-bapak tua ke booth kami dan melihat-lihat si maket PLTMH tadi. Mulut saya kembali komat kamit menerangkan cara kerja PLTMH ulir ini yang sudah berulang kali saya sampaikan dari pagi hingga rasanya mulut saya dapat menjelaskan sendiri tanpa dikasih tau otak lagi. Bapaknya terlihat exited dengan penjelasan saya. Beliau memperkenalkan diri sebagai seorang pengajar. Di akhir diskusi, bapaknya menanyakan berapa harga PLTMH ini. Saya jawab saja bahwa ini masih dalam tahap penelitian jadi belum dijalankan secara komersil, tapi rata-rata harga proyek PLTMH di Indonesia nilai proyeknya 2 Miliar Rupiah untuk listrik sebesar 50 KW seingat saya. Bapaknya kaget seakan tidak percaya. “Sekecil ini 2 M?” sembari menunjuk maket tadi. Saya tambah bingung. Barulah Bapaknya bilang kalau harga yang ditanya adalah harga PLTMH maket ini. Saya bilang saja kalau ini tidak dijual, kemudian bapaknya mengecilkan suaranya, “sebutin aja, saya mau pltmh ini buat pajangan di sekolah?”. Sontak darah pedagang minang saya, tapi karna saya tidak tau siapa yang membuat maket ini, saya cuma bisa menjawab, “siap, nanti saya cari tau infonya pak, kalo ada info baru, saya kabari Bapak lagi”. Beliau memberikan kartu namanya. Dan kemudian saya tidak pernah mengontak Bapaknya kembali.


Ternyata jadi penjaga booth a.k.a. Sales Promotion Boy itu seru juga.


3. Jadi Pembaca Doa Resmi


Masih dalam suasana Diklat Prajabatan, pekan terakhir Bulan Agustus tahun itu saya habiskan dengan bolak-balik Depok - Cikini sebagaimana rutinitas Rombongan Kereta Se Jabodetabek, atau yang lebih gahar dikenal sebagai ROKEEER. Di kantor saya tidak hanya berkutat dengan nilai-nilai ANEKA yang harus saya amalkan, kemudian didokumentasikan, kemudian lagi dilaporkan tertulis, saya juga menjalankan semua arahan dan perintah dari bos di kantor. Arahan, kalau di dunia perdinasan juga disebut Disposisi, yang diberikan kepada saya juga beragam, mulai dari membuat laporan, menyusun konsep surat, menyusun briefing sheet, atau disuruh mendampingi bos rapat keluar. Bahkan juga disuruh untuk menyusun Kerangka Acuan Kerja dan Rencana Anggaran Biaya (KAK-RAB) untuk kegiatan unit tahun depan. 


Salah satu arahan yang saya terima waktu itu adalah ikut membantu persiapan dan pelaksanaan sebuah Focus Group Discussion yang akan diadakan minggu depan di Planet Tetangga (maksudnya Planet Tetangga yang ramai jadi jokes di 2017 yang lalu). Untungnya, sistem kerja di subdit (unit yang dipimpin pejabat eselon III) kami sangat cair dan fun jadi instruksi yang diberikan sangat jelas dan dapat diselesaikan dengan khidmat dalam tempo sesingkat-singkat nya. Tenang, gak kayak bikin teks proklamasi kok, gak perlu begadang sampe subuh, sampe isya aja. Saya ditugaskan untuk mengirim undangan FGD ke daftar undangannya. Beruntung saat itu sudah ada Fax dan Email.


Saya tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya para abdi negara tahun 80an yang lalu ketika mengirimkan undangan rapat ataupun acara lainnya, apalagi untuk daftar tujuan luar kota. Waktu itu saya mengirimkan undangan untuk beberapa organisasi pemerintah daerah di Pulau Sumba untuk diundang ke Bekasi minggu depan. Jika saya mengirimkan undangan ini di tahun 1985, mungkin saya butuh waktu satu bulan dari pengiriman sampai mendapat jawaban konfirmasi apakah undangannya sampai atau tidak. Terima kasih Transistor Silika.


Masalah mengirim undangan selesai, pejabat yang akan datang pun sudah memberi konfirmasi, persiapan venue dan akomodasi acara beres, tapi rasa-rasanya ada yang kurang. Benar saja, sehari sebelum acara, Person in Charge acara ini baru ingat bahwa petugas pembaca doa untuk pembukaan FGD belum ada. Benar, saya yang ditunjuk untuk petugas pembaca doa.


Kalo boleh berhusnudzon, saya ditunjuk karena perawakan wajah alim dan meneduhkan meski tanpa jenggot. Hehehe. Tapi kayaknya saya disuruh jadi pembaca doa karena saya staf laki-laki yang paling muda aja. Karena tak bisa mengelak, terpaksa saya harus menyiapkan diri sebaik-baiknya.


Malam sebelum acara, saya menyoba menghafal doa-doa yang sering dibaca ustad-ustad ketika berkhutbah atau memberi tausiyah. Malam itu saya merasa menjadi laki-laki alim.


Paginya ketika persiapan, saya mencontohkan bacaan doa yang telah saya hafal semalam kepada salah satu senior, Mas Siwon. Dengan sedikit tertawa, Mas Siwon menyampaikan kalau buat acara-acara resmi seperti ini sudah ada template doa yang dibawakan. Tinggal ganti judul kegiatan dan sedikit improvisasi saja. Mas Siwon ternyata adalah spesialis pembaca doa di subdit kami ketika dia masih junior. 


Berbekal kertas bacaan doa yang dikasih Mas Siwon, akhirnya secara saya pertama kali bertugas jadi Pembaca Doa di acara resmi. Alhamdulillah, semoga dihitung jadi amal ibadah.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Fiksi ini juga bisa dibaca di wattpad.com gaess...
Nuhun

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.