Dilema Zaman Perjuangan

Juli 03, 2020



Ketika Zainudin hidup merana karena ditinggal Sang Belahan Hati, Rangkayo Hayati, dan mendekam meraung di sebuah kamar di Silaing, Padang Panjang, Zulfikar baru saja menamatkan 9 tahun perjuangannya di Perguruan Sumatera Thawalib yang didirikan Haji Rasul tersebut. Pagi itu, dia pulang berjalan kaki seorang diri dari pondok nya di Bukit Surungan, di bagian utara Padang Panjang, menuju rumah ibunya di Kampung Manggih yang hanya berjarak kurang dua kilo meter dari Pasar Padang Panjang atau delapan kilometer dari Perguruan Sumatera Thawalib. Dadanya penuh dengan rasa gembira kerena telah menamatkan pendidikan itu dengan bekal hafalan Al-Quran 15 Juz serta kemahiran dari berdakwah yang mumpuni.


Di Rumah Gadang kaum Ibunya, Zul, sapaan akrab Zulfikar, sudah ditunggu oleh Ibu dan Ayahnya serta keluarga besar Ibunya dengan jamuan Makan Bajamba sederhana. Terlihat rasa bangga dan penuh harap dimata Ibunya, Mande Rubiah, serta ayahnya, A. Sutan Pamenan ketika mereka menyambut anak semata wayang mereka di tangga Rumah Gadang. Sangat besar harapan kedua orang tuanya kepada Zul untuk menjadi kebanggan keluarga dan penyelemat mereka di alam kubur. Sang Mamak (paman dari garis Ibu) satu-satunya pun, Datuak Rajo Indo, juga punya harapan besar kepada Zul. Hari itu keluarga besar suku Chaniago Dalam di Kampung Manggih larut dalam kebahagian dan kebanggaan kepada anak kemenakan mereka itu.


Zul belum menentukan langkah selanjutnya selepas tamat dari Sumatera Thawalib, Dia masih ingin menikmati “kebebasan” yang tidak dirasakannya selama sembilan tahun ini. Dia pun masih menimbang-nimbang akan lanjut belajar kemana atau bahkan langsung berdakwah. Dia sadar dengan umur dan ilmunya saat ini, belum ada orang di Padang Panjang yang akan mendengarkanya. Sembari mencari peluang sekolah lanjutan, Zul membantu ayahnya di kedai rempah-rempah milik ayahnya di Pasar Baru Padang Panjang. Bekal ilmu yang dimiliki Zul sebenarnya sudah cukup mumpuni untuk memimpin usaha niaga ayahnya yang berangsung membesar sejak dirintis lebih dari 20 tahun lalu.


Zul pun menikmati hari-harinya menjual rempah-rempah bersama Sang Ayah di pasar. Ketika tidak ada pembeli, mereka berdiskusi dengan hangat tentang banyak hal, terutama tentang kabar dunia luar yang telah lama Zul hiraukan. Sang Ayah, di pasar dikenal dengan panggilan Katik, juga sangat senang ditemani oleh Zul ketika menjajakan dagangan, dia meresa mempunyai teman diskusi dengan tingkat pemahaman setimbang meski itu adalah anaknya yang baru berumur 15 tahun. Pak Katik, meski hanya seorang pedangan di pasar Padang Panjang, memiliki pengetahuan tentang dunia luar serta dinamikanya. Dia pernah berjualan di Batavia, Surabaya, dan Kota Raja di masa mudanya. Dia juga pernah bersentuhan dengan tokoh-tokoh perjuangan termasuk dengan Haji Omar Said pemimpin Sarekat Islam yang masyhur. Informasi pergerakan pemuda di tanah Belanda dan Jawa masih sampai ketelinganya lewat koran-koran dan majalah perjuangan yang masih rutin dikirimkan oleh temannya di Batavia ke Padang Panjang untuk tetap membakar gelora semangat perjuangan di dalam dadanya. Pada tahun itu sebenarnya, Pemerintah Kolonial tidak terlalu menggunakan cara represif kepada pribumi di tanah Minang Kabau. Namun pajak-pajak yang diterapkan oleh Kompeni ini sangat mencekik para petani dan pedagang yang tidak bisa memberi banyak perlawanan.


Hobi membaca koran dan majalah perjuangan Katik ini juga turun keanak sulungnya ini. Disela-sela melayani pembeli, Zul membaca tulisan-tulisan Haji Agus Salim di koran Fadjar Asia terbitan beberapa bulan yang lalu namun masih relefan. Sesekali dia menanyakan kebenaran hal tersebut ke ayahnya. “Iyo urang-urang Jawa tu di bawo ka Samarinda dan dipakso manggali batu baro dek Kumpeni, Bak? Kecek koran ko, inyo-iyo tuh ndak diagiah makan jo lalok doh bak”. Katik menimpali pertanyaan anaknya dengan sangat bersemangat menjelaskan kondisi masyarakat Nusantara di Pulau-pulau lainnya, terutama kekejaman dan siksaan yang dirasakan. Zul juga suka membaca tulisan Muhammad Hatta di koran Daulat Ra’jat serta tulisan lainnya dari Sutan Syahrir, Nadzir Pamuntjak, serta Ibrahim Datuak Tan Malaka diberbagai media cetak yang dikirimi oleh rekan ayahnya tersebut. Mata batin Zul terbuka ketika membaca penderitaan rakyat seantero nusantara. 


Ada banyak kebiasaan dari Perguruan Thawalib yang masih dibawa Zul, salah satunya sholat berjamaah. Ketika petang sudah mulai menjemput, Zul dan Ayahnya menutup kedai rempah mereka sekitar pukul 5 sore. Katik biasanya langsung pulang ke rumah gadang istrinya dan menjalankan sholat magrib di surau di kampung. Namun Zul lebih suka sholat magrib berjamaah di Masjid Jami’ di dekat pasar dan melanjutkan mengaji sampai Isya. Barulah selepas sholat Isya, Zul pulang ke rumah gadang. Beruntung Zul karena jalan dari pasar ke Kampung Manggis tetap cukup ramai selepas Isya tersebut. Sore setelah menutup kedai, sembari menunggu maghrib, Zul menambah energinya dengan minum kopi dan sedikit cemilan goreng pisang di kedai kopi di Pasar Padang Panjang yang buka dari sore hingga malam. Yang dijual tidak hanya kopi dan goreng pisang, ada juga teh talua, bubur kampiun, dan kudapan lainnya. 


Sore itu ketika Zul datang ke kedai kopi, meja depan kasir sudah penuh oleh bapak-bapak dengan sarung yang menyelimuti badan serta kretek yang mengepul di mulut mereka. Mereka adalah pedagang pasar juga yang melepas penat sebelum kembali ke rumah istri masing-masing. “Yo gilo Si Semaun tuh mah, diajaknyo buruh-buruh di Semarang tuh menyarang Kumpeni jo tangan kosong, pasti mati kanai badia lah urang-urang tuh” celetuk dari meja itu yang dilontarkan oleh dari Bapak-bapak yang memakai kopiah sabuik. “Itu loh mode perjuangannyo, baa kecek wak lai. Kasuko hatinyo lah. Wak ikut Haji Agus Salim jo Hatta seh lah. Wak tunggu se dari patueh dari urang bukik tuh”, timpal temannya setelah menyeruput kopi. Diskusi diantara bapak-bapak tersebut berlanjut dengan hangat membahas aksi-aksi yang dilakukan oleh nama-nama besar di Jawa untuk melawan penjajah.


Zul pun tertarik dengan diskusi hangat tersebut, sangat besar keinginannya untuk bergabung di meja nomor satu tersebut dan berbagi pandangan. Namun panggilan suci telah sampai ketelinganya, bergegas Zul meninggalkan kedai kopi itu untuk segera menuju Masjid Jami’. Semangat Zul untuk mempelajari pergerakan ini makin membara hari ke hari, di kedai, Dia menyempatkan diri untuk membuat intisari dari tulisan-tulisan yang ia baca sembari membantu Sang Ayah. Di sore hari hari, Zul berani untuk berdiskusi dengan bapak-bapak meja satu dan diterima dengan hangat. Bapak-bapak tersebut juga kagum dengan pengetahuan dan daya nalar yang dimiliki Zul. Zul merasa dia telah menemukan masa depannya, belajar hukum di Jawa dan ikut dalam perjuangan intelektual ini.


Di suatu siang di kedai Ayahnya, sekitar lima bulan setelah lulus dari Perguruan Thawalib, Zul menyampaikan niatnya untuk belajar tentang hukum ke Jawa agar bisa ikut berjuang melawan penjajah. Zul menyampaikannya dengan santun dan Indah. Sang Ayah merasa terharu dan sependapat dengan ide Zul ini, Zul harus merantau dahulu dan mencari jati dirinya. 


Karatau madang di hulu babuah babungo balun, marantau bujang dahulu di rumah baguno balun.


Katik yang telah mengizinkan anak sulungnya untuk merantau ke Jawa, memberi pesan ke Zul untuk minta izin ke Mamaknya, Datuak Rajo Indo. Dalam budaya minang, seorang anak menjadi tanggung jawab mamaknya juga. Termasuk dengan pilihan hidup untuk masa depan. Tanpa menunggu lama, malam itu Zul lansung menghadap ke Datuak Rajo Indo di surau di Kampung Manggih.


Selesai mendengar permohonan dari kemanakannya, Datuak Rajo Indo terdiam beberapa saat. Dia tidak menyangka Zul sudah membulatkan tekat untuk masa depan padahal dia baru saja kembali ke rumah nya setelah sembilan tahun di gembleng di Perguruan Thawalib. Datuak Rajo Indo faham bahwa umur Zul masih lah sangat muda dan tetap mesti melanjutkan pendidikan. Walapun dengan bekal Ilmu Zul saat ini, masa depan Zul sudah cerah dan terjamin. Lebih dari 30 detik termenung, Datuak Rajo Indo akhirnya bersuara kembali.


Zul,

Alun bakilek lah bakalam, bulan lah langkok tigo puluah, alun takilek lah tapaham, raso lah tibo dalam tubuah. Ambo mangarati jo maksud wa ang.


Tapi kito hidup di kampuang surang,

Bakorong bakampuang barumah batanggo

Basawah baladang, babalai bamusajik

Bapandam bapakuburan, balabuah batapian


Dimaso nan pendek ko, Ambo diamanahi mamimpin kaum awak.

Menuruik alue nan lurus

Manampuah jalan nan pasa 

Mamaliharo harato pusako

Mamaliharo anak kemenakan.


Kok umua, cuma Tuhan yang tau. 

Kok nyampang Ambo dipanggia bisuak,

Wa ang lah nan ka manggiantian Ambo.


Ambo minta, pikian lah baliak, Wa ang yo masi mudo.

Tapi wa ang lah layak jadi datuak panggulu.


Di kampuang seh lah yo.”


Zul cuma berucap “Iyo Tuak”.


Malam itu Zul kembali tidur di surau, pikirannya melayang tentang permintaan sang Mamak dan panggilan hati. Dia berkali-kali sholat istikharah dengan sujud yang lebih lama. Sebuah pergulatan yang berat untuk remaja tanggung yang sedang mencari jati diri. Apakah menuruti hati untuk berjuang bersama atau tetap di kampuang mempersiapkan diri jadi pemimpin kaum Ibunya.


Siang hari esoknya, Zul telah membulatkan hati. Iya dengan sangat berat memilih tetap tinggal di Padang Panjang dan bersiap menjadi penghulu untuk kaumnya. Ia sampaikan keputusannya ini kepada sang Ayah. Katik hanya tersenyum sembari menyanjung “Wa ang lah gadang, yuang”.


---------------------------------------------------------------------------
Cerpen ini juga dapat juga dibaca di wattpad.com

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.