Cerita Fiksi : Laporan Perjalanan Dinas (Bag. 2)

Januari 06, 2021

                             



LAPORAN PERJALANAN DINAS



2.  Sales Promotion Boy


Salah satu syarat wajib seorang cpns untuk menghapus c dan menjadi pns 100% adalah lulus diklat prajabatan. Di kantor sy waktu itu, ada dua pilihan lokasi diklat yang dilaksanakan barengan, Bandung dan Cepu. Kebetulan saya diperintahkan untuk diklat di Cepu. Kebetulan juga angkatan saya juga merupakan angkatan pertama yang merasakan sistem diklat prajabatan baru yang intinya adalah aktualisasi nilai-nilai aneka di aktivitas kantor. Simpelnya, dengan sistem baru ini, peserta wajib mengimplementasikan nilai aneka di pekerjaan kantornya secara spesifik. 


Untuk menyusun rencana implementasi tersebut, saya berkonsultasi sama atasan dan teman di kantor tentang kegiatan yang akan kami laksanakan selama masa balik kantor nanti. Kebetulan pada masa off campus nanti, akan ada acara konferensi dan pameran eksibisi energi terbarukan yang menjadi acara rutin tahunan kantor kami. Fitri, teman satu seksi dan satu angkatan cpns dengan saya,memberi informasi bahwa berdasarkan hasil rapat pimpinan di kantor, saya kebagian tugas untuk menjaga booth kantor kami pada hari kedua acara. Sontak hati saya langsung berbunga karena jadwal tersebut pas dengan jadwal balik saya dari Cepu dan menyusun nilai-nilai aneka akan sangat mudah pada kegiatan "penjaga booth".


Yang nama diklat atau training, kalau gak drama gak seru. Drama yang saya alami datang 2 hari sebelum sidang proposal rencana implementasi dan proposal yang saya susun sudah jadi, bak petir di malam bolongi, Fitri kembali ngasih kabar kalau saya tidak jadi bertugas sebagai penjaga booth pada acara nanti. Berita yang mengacaukan proposal rencana implementasi yang sudah disusun dan mendapatkan approval pembimbing. Untungnya semua masih bisa dibicarakan, setelah mengadu ke atasan, akhirnya dapat kabar baik kalau rencana implementasi tersebut tidak perlu dirombak ulang, saya akan tetap jaga booth di pameran tersebut.


Hari yang dinanti pun tiba, Konferensi tersebut dibuka secara meriah oleh Presiden kita waktu itu dan saat itu saya masih di Cepu, baru akan berangkat malamnya ke Jakarta dengan kereta api karena jadwal saya menjadi petugas jaga mulai besok pagi.  Malam itu KA Sembrani mengantarkan saya kembali ke Jakarta setelah hampir 40 hari di Kota Minyak itu. Adzan Subuh belum datang, saya sudah sampai di Gambir. Setelah Sholat di stasiun Gambir, saya meluncur ke kantor kami di Cikini, rencananya untuk sedikit rebahan serta mandi dan berganti pakaian. Ini adalah pengalam pertama saya mandi di kantor yang untungnya memang disediakan di Ruang Olahraga kami.


Pameran eksebisinya baru akan dibuka pukul 09.00 dan saya sudah sampai di JCC Senayan pukul 8.  Selain beres-beres, kita juga harus briefing dulu untuk pembagian tugas dan apa-apa yang akan dijelaskan serta cara bagi-bagi seminar kitnya. Dan saya kebagian untuk menjelaskan cara kerja dari pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang kebetulan ada maket nya juga. Konon maket itu adalah pinjaman dari rekan peneliti di Bandung yang tengah mengembangkan pembangkit listrik  mikro hidro dengan teknologi turbin ulir yang masih jarang di Indonesia. Di maket tersebut ada aliran air terjun yang memutar turbin ulirnya, turbin ulir tersebut akan memutar generator yang menghasilkan listrik yang menghidupkan bola lampu. Sedangkan air dari bawah dipompa ke atas lagi pakai pompa air biasa yang dinyalakan pake listrik. Karena bentuknya yang unik, banyak yang melihat-lihat maket PLTMH Ulir, tipe orang nya juga beragam. Ada pejabat dari daerah, ada dosen kampus, dan ada juga anak-anak SD yang mencari seminar kit ilmu.


Yang nama nya anak-anak, kalo rame-rame pasti jiwa berandalnya muncul, apalagi kalo ada cewe cem-cemannya. Pas lagi nerangin apa itu pembangkit listrik ke teman-temannya yang berpenampilan jenius, gerombolan “Gadang Suaro” mulai nanya-nanya dengan suara keras dan pergerakannya mulai tidak terkendali. Dan ujug-ujug salah satu anak di gerombolan nakal itu mulai mencipratkan air, yang kebetulan dikasih pewarna hijau agar kelihatan, dari maket ke arah temannya dari gerombolan yang sama. Selanjutnya bisa ditebak, terjadi perang air diantara mereka yang diikuti teriakan “ayo ayo”. Saya yang tidak terlalu mengendalikan makhluk hidup ini, termasuk  hewan peliharaan, cuma bisa ikutan teriak “ayo ayo” juga, heheh, gak deng. Saya hanya bisa tersenyum dan berharap Si Ibu Guru yang mendampingi mereka dapat mengendalikan dua anaknya yang teridentifikasi terkena Sugar Rush ini. Untungnya kekacauan tidak menjalar lebih besar dan Si Ibu bisa menjinakan semua anak didiknya yang sudah mulai bosan saya rasa.


Siang menuju sore ketika pengunjung pameran sudah mulai sepi, datang lah seorang bapak-bapak tua ke booth kami dan melihat-lihat si maket PLTMH tadi. Mulut saya kembali komat kamit menerangkan cara kerja PLTMH ulir ini yang sudah berulang kali saya sampaikan dari pagi hingga rasanya mulut saya dapat menjelaskan sendiri tanpa dikasih tau otak lagi. Bapaknya terlihat exited dengan penjelasan saya. Beliau memperkenalkan diri sebagai seorang pengajar. Di akhir diskusi, bapaknya menanyakan berapa harga PLTMH ini. Saya jawab saja bahwa ini masih dalam tahap penelitian jadi belum dijalankan secara komersil, tapi rata-rata harga proyek PLTMH di Indonesia nilai proyeknya 2 Miliar Rupiah untuk listrik sebesar 50 KW seingat saya. Bapaknya kaget seakan tidak percaya. “Sekecil ini 2 M?” sembari menunjuk maket tadi. Saya tambah bingung. Barulah Bapaknya bilang kalau harga yang ditanya adalah harga PLTMH maket ini. Saya bilang saja kalau ini tidak dijual, kemudian bapaknya mengecilkan suaranya, “sebutin aja, saya mau pltmh ini buat pajangan di sekolah?”. Sontak darah pedagang minang saya, tapi karna saya tidak tau siapa yang membuat maket ini, saya cuma bisa menjawab, “siap, nanti saya cari tau infonya pak, kalo ada info baru, saya kabari Bapak lagi”. Beliau memberikan kartu namanya. Dan kemudian saya tidak pernah mengontak Bapaknya kembali.


Ternyata jadi penjaga booth a.k.a. Sales Promotion Boy itu seru juga.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.