BREN dan Harapan terhadap Pemain Besar Energi Terbarukan Indonesia
Sebagai orang yang cukup lama bekerja di sektor energi terbarukan, saya termasuk yang cukup antusias ketika Barito Renewables Energy (BREN) melantai di bursa pada Oktober 2023. (E-IPO)
| Sumber : wikipedia |
Bukan tanpa alasan.
Kalau ditarik ke belakang, perjalanan bagian dari grup Pak PP ini sebenarnya cukup menarik. Awalnya melalui pengembangan aset panas bumi lewat Star Energy Geothermal, yang kemudian menjadi salah satu pemain geothermal terbesar di Indonesia. Portofolionya juga tidak kecil. Lalu ekspansi berlanjut ke sektor energi terbarukan lain, termasuk akuisisi PLTB Sidrap dari UPC Renewables dan ACEN yang diumumkan pada akhir 2023 dan diselesaikan pada April 2024. (Barito Renewables)
Buat orang-orang yang mengikuti sektor renewable energy Indonesia, cerita seperti ini tentu menarik. Ada nama besar dengan akses pendanaan kuat yang mulai serius masuk ke energi bersih. Narasinya kuat: transisi energi, green investment, renewable future, dan sebagainya.
Dan kemudian… harga sahamnya naik gila-gilaan.
Dalam waktu relatif singkat, BREN bahkan sempat menjadi saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, mengalahkan saham-saham perbankan besar. (IDN Financials)
Ketika masa-masa ATH di pertengahan 2025 saya sempat berpikir: “Kalau market cap-nya sebesar ini, harusnya kemampuan investasinya juga luar biasa.”
Harapannya sebenarnya sederhana. Dengan valuasi sebesar itu, BREN bisa menjadi motor investasi energi terbarukan di Indonesia. Bisa agresif masuk ke proyek-proyek baru. Dan mungkin secara psikologis pasar, bisa ikut menarik perhatian investor ke saham renewable energy lain seperti Pertamina Geothermal Energy (PGEO) maupun Kencana Energi Lestari (KEEN).
Karena jujur saja, sektor renewable energy Indonesia masih sangat membutuhkan pemain lokal yang besar dan kuat secara kapital.
Tapi seiring waktu, cerita yang muncul ternyata berbeda.
Pasar mulai mempertanyakan soal free float BREN yang dianggap terlalu kecil. Isu ini makin besar ketika MSCI dan FTSE mulai menyoroti struktur kepemilikan saham di Indonesia, terutama saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. (Indo Premier). Walaupun sebenarnya saham yang dilepas saat IPO sendiri hanya sekitar 3% dari total saham perusahaan. Namun di rilis OJK ternyata Pak PP menguasai lebih dari 99% total share. Artinya jumlah saham BREN yang setinggi langit di bursa itu ya berputar di itu itu aja. (Indo Premier)
Di titik itu saya mulai sadar bahwa kenaikan harga saham BREN mungkin bukan sepenuhnya cerita tentang optimisme renewable energy. Sebagian besar mungkin lebih dekat ke cerita saham dengan jumlah beredar kecil , mudah bergerak ekstrem, ditambah sentimen “saham konglo".
Dan memang, kalau melihat pergerakan harganya, rasanya sulit dijelaskan hanya dengan fundamental proyek renewable energy saja.
Sayang sebenarnya.
Karena Indonesia sangat membutuhkan success story perusahaan renewable energy lokal dengan skala besar. Kita butuh pemain yang bukan hanya besar di market cap, tapi juga besar di realisasi proyeknya.
Kita butuh lebih banyak proyek geothermal, PLTB, PLTS, energy storage, dan infrastruktur energi bersih lain yang benar-benar dibangun.
Saya pribadi tetap berharap BREN pada akhirnya benar-benar menggunakan kekuatan kapital dan akses pendanaannya untuk memperbesar investasi renewable energy di Indonesia.
Karena pada akhirnya, sektor ini tetap membutuhkan local champion.
Dan menurut saya, pemain-pemain seperti MedcoEnergi (MEDC), PGEO, maupun pemain renewable lainnya tetap perlu didukung agar ekosistem energi terbarukan Indonesia tidak hanya besar di valuasi pasar, tapi juga besar di pembangunan nyata.
Btw, saya masih pegang saham BREN hingga saat ini. Pernah jadi pendongkrak porto karena naik hingga 200% dan tetap pegang di masa-masa gak jelas ini. Hehehe.


Tidak ada komentar: