Jalan Panjang Untuk Sebuah Permulaan

Agustus 09, 2018
Sebelumnya saya adalah seorang yang tidak terlalu tertarik dan paham dengan dunia pelayanan kesehatan mulai dari dokter hingga rumah sakit-nya. Selain karena tidak  suka dengan suasana dan bau rumah sakit yang seperti membawa hawa mencekam, saya juga tidak berpikiran untuk terjun ke dunia kesehatan karena tau dengan batas atas kemampuan otak dan finansial keluarga saya untuk menempuh pendidikan untuk menjadi seorang dokter.  

Tapi itu dulu, sekarang saya mau tidak mau harus lebih mengenal dunia kesehatan terutama per-dokter-annya demi untuk rumah tangga yang lebih harmonis dengan "mengerti profesi istri" :). Yes, Partner-for-Life saya, Teda Faadhila, berkecimpung di dunia tersebut. 

Bagi rekan-rekan yang kurang begitu familiar dan paham dengan sistem per-dokter-an Indonesia terutama sistem pendidikan dokter, reportase Tirto.id berikut sedikit banyak memberi gambaran tentang bagaimana perjalan seorang mahasiswa untuk mendapat gelar dr. hingga beberapa cerita kelamnya.


Sok mangga dibaca dulu kalo belum paham, kalo sudah balik kesini lagi ya.

Simpelnya sih, mohon koreksi jika saya salah, seorang mahasiswa pendidikan sarjana dokter akan menghabiskan waktu 3-4 tahun untuk mendapatkan gelar S.Ked, kemudian akan melanjutkan pada jenjang pendidikan profesi atau yang dikenal denga koas selama hampir dua tahun. Dua hal itu sebenarnya pengetahuan yang relatif umum. Nah yang jarang diketahui orang awam seperti saya, pintu keluar dari pendidikan profesi dokter bukanlah menyelesaikan semua tahapan koas dengan ujiannya tetapi diakhiri oleh ujian serentak nasional yang diselanggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dengan menggaet beberapa instansi dan organisasi profesi seperti  Kementerian Kesehatan, Konsil Kedokteran Indonesia, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia,dan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia. Ujian tersebut dikenal dengan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) yang terdiri dari dua ujian jenis, yaitu Computer Based Test (CBT) dan Objective Structured Clinical Examination(OSCE). Singkatnya, CBT merupakan ujian tertulis dan OSCE adalah ujian praktik. 

Akhir pekan ini dan akhir pekan depan, Partner-for-Life saya akan mengikuti dua tersebut, OSCE kemudian CBT.

Setelah jalan panjang yang dilaluinya, ujian tersebut datang untuk dituntaskan. Menamatkan jenjang pendidikan dasar 12 tahun pada 2011 di SMA yang sama dengan saya  :), kemudian sempat merantau ke Negeri Belimbing, sejak 2012 Dia telah memuali perjuangan mulia untuk menjadi umat mulia yang berguna bagi sesamanya. Tahun 2016, gelar ijazah sarjana kedokteran telah didapatkannya yang kemudian dilanjutkan dengan 2 tahun koas hingga hari ujian akhir itu datang 2018 ini. 

Waktu 6 tahun untuk tetap menjadi mahasiswa sarjana dan pendidikan profesi bukanlah waktu yang tetalu lama jika dibandingkan dengan mahasiswa lulus di "waktu yang tepat". Tapi Jalan panjang itu hanyalah sebuah permulaan untuk perjuangan yang lebih panjang dan lebih berat lagi, kata orang-orang. Akan ada 1 tahun intership dan beberapa tahun untuk pendidikan dokter spesialis. Akan ada perjuangan yang lebih berat dan pengorbanan yang bebih besar hingga dapat mencapai niatan awal ketika memilih untuk menjadi dokter.

Sebagai suami, seharusnya saya menemani Partner-for-Life saya dalam persiapan menghadapi ujian tersebut. Persiapan yang memakan waktu, tenaga, pikirian, dana, serta kesehatan yang tidak sedikit demi hasil maksimal, LULUS.

Namun, jarak 1300 km memisahkan raga kami meski teknologi banyak membantu. 

Seharusnya saya ikut bergadang hingga dini hari untuk menemaninya belajar dari pagi hingga pagi sampai seperti waktu berlalu sangat cepat dan 24 jam sehari sangat kurang;
Saharusnya saya yang mengantarnya ke rumah teman atau ke kampus untuk pergi belajar kelompok bersama dan menjemput kembali sehingga dia tidak perlu bergantung pada driver taksi online yang berbeda disetiap pesanan;
Seharusnya saya membantu mengoperasikan mesin cuci sehinga  setenggah hari diakhir pekannya tidak terbuang bersama air cucian;
Seharusnya saya bisa membantu menghilangkan rasa pegal karena duduk dan membaca seharian dengan pijatan sebelum tidur;
dan banyak seharusnya lagi yang dapat saya lakukan demi hasil maksimal di ujian ini.

Namun karena jarak, hanya mendengarkan cerita dan memonitor kondisinya yang dapat saya lakukan dengan bantuan teknologi. Serta doa disetiap akhir sholat kepada Allah Subhana Wa Ta'laa yang menjadi bantuan saya dalam perjuangan yang melelahkan ini.

Untuk istriku, Teda Faadhila.
Nikmati pertarungan besar ini dengan lapang hati,
Semua ikhtiar dan upaya telah dilakukan,
Sisanya adalah ridho Allah dan kedua orang tua.
Apapun hasil diakhir nanti, 
semoga itulah yang diberkahi-Nya,
dan You'll always have me.


Ganbate


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.