Main Kandang: Final yang Akan Selalu Diingat

Juli 31, 2026

Kalau di tulisan sebelumnya saya cerita tentang perjalanan menuju final, sekarang giliran cerita isi pertandingannya.


Belajar dari pengalaman semifinal yang antreannya luar biasa, kali ini saya dan Faqih datang lebih awal. Sekitar jam lima sore kami sudah sampai di Indonesia Arena. Benar saja, antreannya masih bersahabat. Masih bisa jalan santai tanpa harus ikut lomba lari menuju pintu masuk.


Karena pertandingan masih lama, kami muter-muter dulu di sekitar arena. Pas masuk waktu Magrib, kami ikut salat di musala. Nah, ini juga ada seninya. Habis salat, jangan terlalu lama ngobrol. Langsung balik ke arena. Soalnya kalau kelamaan, bisa-bisa tempat duduk yang enak sudah diambil orang.


Untung kami cuma "mengamankan posisi" sekitar dua puluh menit. Masih aman. Strategi kali ini berhasil. 😄


Begitu masuk tribun, baru sadar kalau kursi kami ternyata berada di sisi utara. Dan kalau sudah ngomongin tribun utara...


Ya, itu markasnya Ultras Garuda.


Karena sudah telanjur berada di tempat mereka, ya mau tidak mau ikut nyanyi sedikit. Tidak hafal semua chant? Ya tinggal komat-kamit saja. Yang penting bibir bergerak dan tangan ikut tepuk tangan. Untung tidak disuruh jadi dirigen.

Tapi jujur...

Seru.

Atmosfernya beda. Energinya terasa dari awal sampai akhir pertandingan.

Begitu Indonesia mencetak gol, satu tribun seperti berguncang. Semua orang berdiri, berpelukan dengan orang yang bahkan lima menit sebelumnya tidak saling kenal.


Itulah mungkin salah satu hal yang saya suka dari sepak bola. 


Pertandingannya sendiri menurut saya luar biasa.

Indonesia bermain sangat baik. Bahkan sempat unggul dan benar-benar membuat kami percaya kalau trofi itu sudah di depan mata.

Sayangnya lawan berhasil menyamakan kedudukan.

Lalu tibalah bagian yang paling tidak disukai semua pencinta sepak bola.

Adu penalti.

Kalau kata orang, penalti itu lotre.

Kalau kata saya, penalti itu latihan menjaga kesehatan jantung.

Setiap penendang maju, satu tribun langsung diam. Baru bernapas lagi setelah bola masuk... atau malah makin sesak kalau tidak masuk.

Dan akhirnya...

Indonesia harus mengakui keunggulan lawan melalui adu penalti.

Sedih?

Gak terlalu.  waktu peluit terakhir berbunyi saya tidak merasa kecewa, malah ada sedikit bersyukur. Clue -> masak iya kita juara di era "ini" .



 

Yang saya rasakan justru bangga.

Karena saya beruntung bisa menjadi salah satu saksi sejarah.

Dulu rasanya masuk final turnamen Asia saja seperti mimpi.

Sekarang, kita gak kecewa karena gagal menjadi juara.

Standar ekspektasinya sudah berubah.

Dan menurut saya, itu pertanda yang bagus.

Level kita memang sudah berbeda.


Btw, kami masuk di reel salah seorang selebgram. maaf reelsnya kami taro sini ya bang. 



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.