PSPP Padang Panjang di Liga 4 Nasional 2026

Juli 18, 2026

Saya sebenarnya sudah berjanji sama diri sendiri,  tidak akan menulis tentang sepak bola Indonesia karena Tragedi Kanjuruhan #remember136. Tapi ya... namanya juga janji sama diri sendiri, yang ngelanggar juga diri sendiri. 😄


Apalagi kalau yang dibahas adalah klub kampung halaman.


Alasan lain pengen nulis ini karena saya ada foto lumayan ok pake Jersey PSPP Padang panjang pas lari HM BFI Run 2026 yang waktu pelaksanaannya berdekatan dengan Liga 4 Nasional 2026 kemaren. Sengaja pake Jersey ini, sekalian promosi klub kebanggaan. Siapa tahu ada yang nanya, "Itu jersey klub apa?" Walaupun kemungkinan besarnya orang lebih fokus nanya, "Bang, kuat lari pakai jersey bola?" 😂.  (Running Race Review Edisi BFI Run 2026 menyusul gaes)


Musim ini sebenarnya cukup menyenangkan buat ngikutin PSPP. Di Liga 4 Sumatera Barat mereka tampil solid banget. Sembilan pertandingan, tujuh kali menang, cuma sekali seri dan sekali kalah. Skuadnya juga lumayan, bahkan ada mantan pemain Semen Padang, Julian Mancini. Rasanya sudah mulai optimis, "Wah, tahun ini bisa nih."


PSPP akhirnya sampai ke final.


Lawan yang dihadapi? PSP lagi.


Yang di grup susah dikalahkan, ternyata di final juga tetap susah dikalahkan. Yasudah... runner-up lagi. Namanya juga sepak bola, kadang yang konsisten cuma rasa kecewanya. 😄


Tapi sebenarnya saya senang melihat PSPP bisa kembali kompetitif. Klub ini hidup lagi sejak masa Pak Fadly Amran menjadi Wali Kota Padang Panjang. Perlahan-lahan dibangun lagi, sampai akhirnya sekarang rutin ikut kompetisi. Buat kota sekecil Padang Panjang, itu saja menurut saya sudah sebuah pencapaian.


Liga Sumbar selesai pas bulan Syawal. Tim istirahat sebentar, lalu langsung latihan lagi karena Sumatera Barat  itu dijatah dua wakil ke putaran nasional, biasanya.


Nah... dramanya baru mulai.


Entah siapa yang lagi kurang kerjaan, sekitar dua bulan kemudian kuota Sumatera Barat tiba-tiba dikurangi jadi satu. Alasannya karena jumlah peserta liga dan jumlah pertandingan dianggap kurang memenuhi syarat.


Yang bikin netizen makin panas, ada provinsi yang bahkan tidak menggelar liga penuh—katanya cuma semacam Piala Gubernur dengan lima klub—eh kuotanya malah lebih banyak.


Ya rame lah.


Timeline penuh debat.


Bahkan Andre Rosiade sampai ikut bersuara.


Saya pikir ya sudah, berarti tahun ini memang belum rezekinya PSPP.


Eh... ternyata sepak bola Indonesia memang tidak pernah kehabisan plot twist.


Menjelang putaran nasional dimulai, beberapa klub mengundurkan diri karena tidak siap ikut kompetisi.


Akhirnya...


PSPP dipanggil lagi.


Rasanya seperti sudah pasrah tidak jadi wisuda, eh tiba-tiba dosen bilang, "Nilainya keluar, ternyata lulus." 😂


Di putaran nasional PSPP main di Purbalingga. Hasilnya memang belum cukup buat lolos. Kalah 0-1 dari Wahana FC, menang 2-1 atas Sylva Kalteng, lalu kalah 1-3 dari Persibangga.


Kalau lihat klasemen memang biasa saja.


Tapi saya pribadi cukup menikmati permainannya. Apalagi sebagian pertandingan dimainkan jam satu siang. Jujur, saya yang nonton lewat layar saja sudah gerah. Saya salut sama pemain yang harus lari-larian di lapangan dengan matahari lagi semangat-semangatnya.


Namanya juga Liga 4. Kadang main bagus, kadang off form. Kadang finishing bagus, kadang gawang yang lebar itu rasanya mengecil sendiri.


Begitu PSPP gagal lolos, tentu saja netizen bekerja sebagaimana mestinya.


"Bukannya sudah dibantu Andre?"


"Mirip Semen Padang."


Dan berbagai komentar lain yang, ya... begitulah sepak bola Indonesia. Menang dipuji, kalah dibully. Sudah paket lengkap.


Tapi buat saya pribadi, tidak apa-apa.


PSPP tahun ini sudah memberi hiburan buat orang Padang Panjang. Sudah kembali membawa nama kota ke putaran nasional. Dan yang paling penting, klub ini masih hidup.


Naik kasta memang belum.


Tapi mudah-mudahan musim depan ceritanya lebih seru lagi.


Kalau ada yang membuat saya makin malas menulis tentang sepak bola Indonesia ya yang kek ini.


Hari ini kuota dua, besok jadi satu. Alasannya berubah-ubah, penerapannya juga terasa tidak konsisten. Belum lagi kalau sudah mulai muncul kesan ada daerah yang lebih "diistimewakan" daripada daerah lain. Sebagai penonton, kadang kita cuma bisa garuk-garuk kepala sambil bertanya, "Ini sebenarnya aturannya apa sih?"


Ya sudahlah.


Mungkin memang beginilah sepak bola Indonesia. Kadang dramanya lebih seru daripada pertandingannya sendiri.


Tapi ya... induknya saja, FIFA, menurut sebagian orang juga masih sering dituduh pilih kasih. Lihat saja ramainya perdebatan selama Piala Dunia 2026 kemarin. Jadi mungkin PSSI hanya sedang mengikuti... best practice. 😆


Semoga musim depan yang lebih banyak dibahas adalah gol-gol indah, bukan lagi drama administrasi.





Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.