Ketika Orang Minang Kembali Berdebat Lewat Tulisan Opini
Dari sekian banyak persoalan di ranah Minang yang ramai diperbincangkan belakangan ini, ada satu yang lumayan dekat dengan saya. Yaitu perihal penolakan pembangunan infrastruktur, utamanya jalan tol dan infrastruktur ketenagalistrikan.
Tentang jalan tol Padang–Pekanbaru, persoalan ini cukup dekat dengan saya karena trase yang sedang ramai diributkan adalah trase Sicincin–Padang Panjang. Walaupun sebenarnya meski lahir dan besar di Padang Panjang, tidak ada tanah keluarga atau tanah kaum kami yang terdampak dari tersebut.
Cerita tentang penolakan ini sebenarnya cukup panjang dan sudah bersimpang-siur ke mana-mana. Jujur saja, saya sendiri sudah kesusahan menelusuri bagaimana awal mula persoalan ini menjadi ramai. Yang pasti, rencana trase tol Sicincin–Padang Panjang melewati cukup banyak tanah ulayat. Ninik mamak dari kaum yang tanahnya terdampak kemudian kompak menyatakan penolakan.
Alasannya?
Jujur, saya sendiri belum bisa menarik kesimpulan.
Namun, di tengah ramainya persoalan tersebut, ada satu fenomena yang justru menarik dan cukup menghangatkan dada.
Para pemikir (dan pengomentar) persoalan ini berdebat dengan cukup gentle melalui pertukaran tulisan opini di media online. Tulisan-tulisan tersebut ditulis menggunakan nama asli. Opininya terstruktur, berusaha berdasarkan fakta, namun tetap saling cimeeh. Hehehe.
Fenomena seperti ini sudah cukup lama tidak kita lihat.
Terutama sejak sekitar 2014, ketika ruang diskusi publik semakin banyak didominasi tulisan-tulisan pendek dari akun anonim, dengan kebenaran yang kadang sudah didesain sedemikian rupa sesuai kepentingan masing-masing. (Walaupun debat di kolom komentar Facebook Masih lumayan ramai juga sih, apalagi sejak ada Facebook pro).
Fenomena bertukar opini melalui tulisan ini sedikit mengingatkan saya pada masa ketika tulisan punya posisi yang sangat penting dalam sebuah perjuangan. Zaman pra-kemerdekaan, misalnya. Atau ketika para pejuang mempertahankan kemerdekaan dan gagasan-gagasan besar disebarkan melalui tulisan, surat kabar, dan pamflet.
Tentu konteksnya jauh berbeda.
Tapi ada satu hal yang terasa sama: orang masih mau berpikir, menulis, lalu berdebat menggunakan gagasan.
Shoutout untuk Langgam.id yang menurut saya menjadi salah satu ruang yang cukup sehat untuk itu. Media ini menjadi tempat para pemikir Minang menuangkan isi kepala dengan tenang, tetapi tetap melalui proses kurasi dan penyuntingan.
Setidaknya, sejak pertengahan Juli sampai pertengahan Agustus ini, sudah ada sekitar enam tulisan opini yang saya temukan terkait isu ini.
Dan menariknya, tulisan-tulisan tersebut tidak semuanya memiliki sudut pandang yang sama, tidak jarang malah sailing berbalas. Menurut saya, justru disitulah fungsi tulisan opini. Bukan untuk memastikan semua orang sepakat, tetapi memberikan ruang bagi orang untuk menyampaikan argumennya secara terbuka, dengan nama yang jelas, dan kemudian membiarkan pembaca menilai sendiri.
Saya sendiri punya sedikit kenangan dengan Langgam.id.
Semasa menjadi mahasiswa penuh waktu di zaman Covid dulu, saya pernah mengirimkan satu tulisan opini ke Langgam.id. Alhamdulillah, tulisan tersebut diterima dan dimuat. Waktu itu saya menulis tentang energi dan kondisi pasca-pandemi dalam tulisan berjudul “Outlook Energi Pasca-bala Covid-19”, yang terbit pada April 2020. Baca tulisan saya di Langgam.id
Menarik juga kalau dipikir-pikir, sudah lebih dari enam tahun berlalu. Dulu saya menulis sebagai mahasiswa yang sedang mencoba memahami persoalan energi dari bangku kuliah. Sekarang, setelah cukup lama berkecimpung di sektor energi, rasanya tetap saja ada dorongan untuk menulis ketika melihat persoalan yang menarik perhatian.
Dan untuk isu tol Dan projek infrastuktur ini, sejujurnya saya juga punya satu pokok ide yang ingin saya tuliskan.
Tapi risetnya belum selesai.
Jadi untuk sementara, biarkan orang-orang yang lebih dulu selesai risetnya berdebat. Saya baca-baca dulu sambil ngopi. 😄
Insyaallah, kalau risetnya sudah selesai, mungkin saya ikut nimbrung. Sekadar menambah satu tulisan lagi di tengah perdebatan yang, menurut saya, justru sedang menunjukkan bahwa tradisi berdiskusi melalui tulisan masih hidup di ranah Minang.


abang panutan ku ini 🔥🔥
BalasHapus