Belajar BESS

September 30, 2026
"We need BESS for our energy transition, and there is a lot we can learn from other countries’ experience."


Kurang lebih itu yang saya rasakan setelah mengikuti 3-day Battery Energy Storage System (BESS) Training Workshop minggu lalu.


Belakangan ini BESS memang semakin sering muncul dalam pembicaraan mengenai transisi energi di Indonesia. Dulu kalau bicara renewable energy, pembahasannya mungkin lebih banyak berkutat pada PLTS, PLTB, PLTA, jaringan, dan berbagai teknologi pembangkit lainnya. Sekarang, ketika penetrasi energi terbarukan semakin tinggi, pertanyaan mengenai energy storage mulai semakin sering muncul.


Bukan lagi sekadar, “Apakah kita membutuhkan BESS?”


Tetapi mulai masuk ke pertanyaan yang lebih rumit: BESS-nya mau dipakai untuk apa? Di mana dibutuhkan? Berapa kapasitasnya? Bagaimana cara mengoperasikannya? Bagaimana mengintegrasikannya ke sistem? Dan tentu saja, bagaimana supaya secara teknis dan finansial masuk akal?


Nah, training minggu lalu menurut saya menarik karena pembahasannya tidak berhenti di slide presentasi.


Training ini merupakan bagian dari kerja sama antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Southeast Asia Energy Transition Partnership (ETP UNOPS) dalam rangka kajian mengenai integrasi BESS pada sistem kelistrikan Indonesia, dengan dukungan teknis dari Siemens.


Jadi training ini bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Ia menjadi salah satu bagian dari proses yang lebih besar untuk membangun pemahaman dan kapasitas terkait bagaimana BESS nantinya dapat diintegrasikan ke sistem kelistrikan Indonesia.Selama tiga hari, peserta mendapatkan berbagai materi mengenai BESS, mulai dari teknologi, fungsi, sizing, integrasi dengan PLTS, sampai aspek operasi dan keselamatan.


Yang saya suka, pembahasannya tidak hanya “ini teorinya”, lalu selesai. Kami juga diajak untuk mencoba langsung beberapa tools dan melakukan simulasi. Tidak Hanya Mendengarkan Presentas. Salah satu bagian yang menurut saya paling menarik adalah ketika kami masuk ke sesi hands-on.  Kami mencoba melakukan perhitungan sizing PV dan BESS, termasuk simulasi finansial menggunakan Excel. Bagi orang yang sehari-hari cukup sering berhadapan dengan angka dan spreadsheet, bagian Excel sebenarnya terasa cukup familiar. Tetapi ketika variabelnya mulai bertambah—kapasitas PV, kapasitas baterai, pola operasi, kebutuhan energi, dan berbagai asumsi lainnya—mulai terasa bahwa menentukan ukuran BESS tidak sesederhana memasukkan angka lalu mendapatkan satu hasil.

Apalagi kalau kemudian pertanyaannya berubah dari:
“Berapa kapasitas BESS yang dibutuhkan?”
menjadi:
“Berapa kapasitas yang optimal untuk kebutuhan sistem tertentu?”
Nah, itu sudah cerita lain.


Kami juga mendapatkan kesempatan untuk belajar menggunakan PSS®E untuk melihat aspek integrasi BESS ke sistem tenaga. Di sini pembahasannya menjadi lebih dekat dengan dunia sistem kelistrikan: bagaimana BESS berinteraksi dengan sistem, fungsi apa yang dapat diberikan, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kondisi sistem.


Buat saya pribadi, sesi seperti ini justru yang membuat training menjadi lebih menarik. Karena kita tidak hanya tahu bahwa BESS bisa melakukan sesuatu, tetapi mulai melihat bagaimana fungsi tersebut dianalisis dan direncanakan dalam suatu sistem tenaga.


Hal lain yang menurut saya penting dari training ini adalah kesempatan untuk melihat pengalaman dari negara lain. Indonesia tentu bukan negara pertama yang menghadapi kebutuhan integrasi renewable energy dan energy storage. Negara lain sudah lebih dulu mengalami berbagai tantangan terkait penetrasi energi terbarukan, fleksibilitas sistem, kebutuhan balancing, dan integrasi storage.


Menurut saya kombinasi antara teori, pengalaman negara lain, dan pengalaman praktis di Indonesia ini yang membuat diskusinya menjadi lebih menarik. Salah satu hal yang menurut saya semakin jelas setelah mengikuti training ini adalah bahwa pembahasan BESS seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah kita membutuhkan baterai atau tidak.



Dan yang paling penting, saya pulang dengan satu key takeaway:
Indonesia membutuhkan BESS untuk mendukung transisi energinya.
Dan dalam proses menuju ke sana, kita tidak harus belajar semuanya dari nol. Kita bisa belajar dari pengalaman negara lain, dari pengalaman industri, dan tentu saja dari pengalaman kita sendiri.


Masih banyak yang harus dipelajari.
Tapi pelan-pelan, Indonesia semakin siap.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.