Running Race Review: BFI RUN 2026 - Akhirnya Ikut Race Lagi

September 18, 2026

Setelah terakhir ikut race lari pada Oktober 2024, waktu itu Wellington Marathon kategori Half Marathon, akhirnya saya ikut race lagi pada 2026. Pilihannya jatuh ke BFI RUN 2026, yang dilaksanakan di ICE BSD City, Tangerang, pada Minggu, 24 Mei 2026.

Sebenarnya setelah Wellington Marathon, saya sudah sempat punya tiket untuk Half Marathon di Jakarta Running Festival 2025. Tapi namanya juga pegawai kantoran, tiket sudah ada bukan berarti pasti lari. Ada acara kantor yang waktunya berbarengan dan akhirnya saya harus memilih untuk Did Not Start (DNS). Jadi BFI RUN 2026 ini sekaligus menjadi race pertama saya setelah cukup lama absen dari lomba lari.



PENDAFTARAN

Saya pertama kali mendapat informasi kalau BFI RUN 2026 akan membuka pendaftaran dan ternyata jadwal race-nya cukup cocok. Pelaksanaannya akhir Mei, setelah Idul Fitri tetapi masih cukup dekat dengan Idul Adha. Artinya, kalender saya relatif aman.

Jadi prinsipnya sederhana: daftar dulu aja.

Saya mulai mengikuti informasi BFI RUN melalui Instagram. Ketika pendaftaran dibuka, ternyata seperti race lari pada umumnya sekarang: perang dengan sistem online. Saya masuk antrean virtual dan harus menunggu sekitar 15 menit sebelum akhirnya bisa masuk ke halaman pendaftaran.

Untungnya masih dapat slot.

Untuk kategori Half Marathon, biaya pendaftarannya Rp649.000. Menurut saya angka ini masih cukup rasional kalau dibandingkan dengan beberapa race Half Marathon lain yang sekelas. Apalagi paketnya sudah termasuk race jersey, BIB, timing tag, race bag, dan untuk peserta HM yang finish di bawah COT mendapatkan finisher jersey.

Begitu pembayaran selesai, ya sudah. Tinggal satu persoalan: latihan.

Atau paling tidak, berusaha latihan.


PERSIAPAN

Kalau biasanya orang menyiapkan Half Marathon dengan program latihan 12 minggu, saya tidak seperti itu. Dari pendaftaran sampai race day, pola latihan saya sebenarnya cukup sederhana dan tidak menggunakan program khusus.

Yang penting setiap minggu ada mileage.

Kemudian kurang lebih sebulan sekali mencoba long run. Jaraknya juga jangan ditanya terlalu jauh. Belasan kilometer saja sudah cukup membuat saya merasa bahwa hari itu sudah melakukan sesuatu yang penting. Hehehe.

Target saya memang tidak muluk-muluk. Saya tidak mengejar PB, tidak mengejar sub-2, apalagi podium. Yang penting finish.

Ada beberapa alasan kenapa targetnya dibuat sederhana. Salah satunya karena kondisi badan. Masalah GERD memang relatif terkendali, tetapi tetap meninggalkan sedikit trauma setiap kali akan melakukan lari jarak jauh. Selain itu berat badan juga masih menjadi masalah klasik. Sudah lari, sudah berusaha, tetapi angka di timbangan kadang seperti punya pendapat sendiri.

Jadi daripada terlalu ambisius lalu malah membuat masalah, saya memilih target yang lebih realistis: lari, nikmati, dan kalau bisa selesai sebelum COT.

Untuk persiapan perlengkapan juga tidak ada sesuatu yang terlalu baru. Sepatu yang saya gunakan masih ASICS Gel Nimbus 25, sepatu yang sudah menemani saya sejak race Full Marathon tahun 2023. Jadi kalau sepatu itu bisa ngomong mungkin dia juga sudah bosan melihat pemiliknya yang latihannya tidak konsisten tetapi tiba-tiba mengajaknya lari 21 kilometer.

Gear lainnya juga biasa saja.

Tapi ada satu yang sengaja saya siapkan untuk race kali ini: jersey PSPP.

Ada ceritanya kenapa saya memakai jersey PSPP di race ini. Ceritanya sudah saya tulis di blog sebelumnya, jadi biarlah jersey tersebut menjalankan tugasnya sebagai representasi kampung halaman sekaligus bahan konten untuk tulisan berikutnya.


RACE PACK COLLECTION

BFI RUN 2026 mengharuskan peserta mengambil race pack sebelum hari lomba. Pengambilan dilakukan pada 21–23 Mei 2026 di EASTVARA BSD.

Isinya standar race besar: race jersey, BIB, timing tag, race bag, dan produk sponsor. Untuk peserta Half Marathon, ada tambahan finisher jersey yang akan diberikan kepada peserta yang menyelesaikan lomba sesuai ketentuan COT.

Tapi race pack collection kali ini bukan cuma datang, ambil BIB, lalu pulang.

Di lokasi juga ada bazaar dan booth. Jadi sambil mengambil race pack bisa melihat-lihat perlengkapan, foto-foto di booth, dan tentu saja melakukan kegiatan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan persiapan lari: belanja.

Kami juga sekalian melakukan carbo loading di sekitar sana. Ada steak house yang menjadi pilihan makan malam, kemudian lanjut belanja di AEON.

Jadi kalau ada yang bertanya bagaimana persiapan Half Marathon saya sehari sebelum lomba, jawabannya kira-kira begini: ambil race pack, foto-foto, makan steak, belanja.




RACE DAY

Kelas HM mendapat jadwal start sekitar pukul 04.45 WIB. Ini kemudian menimbulkan satu persoalan yang cukup penting: waktu Subuh.

Untuk hari tersebut, waktu Subuh sekitar pukul 04.38. Artinya saya tidak mungkin santai-santai dulu di hotel lalu berangkat ke venue setelah Subuh. Harus ada strategi khusus supaya bisa tetap sholat Subuh sebelum start.

Saya akhirnya menyiapkan perlengkapan khusus untuk skenario tersebut. Bahkan sudah membeli jas hujan sekali pakai. Bukan untuk menghadapi hujan, tetapi untuk digunakan sebagai alas dan pelindung celana ketika nanti sholat di venue.

Race lari ternyata juga membutuhkan strategi logistik ibadah.

Malam sebelum race saya tidur setelah Maghrib. Bangun sekitar pukul 03.00. Setelah bangun, saya sholat Isya, kemudian bersih-bersih, memasang tape, memakai gear lari, dan menyiapkan semua perlengkapan.

Setelah itu baru berangkat menggunakan Grab B menuju race venue.




Sampai di ICE BSD, saya mencari tempat yang cukup nyaman untuk stretching. Teras ICE menjadi tempat pilihan. Setelah itu terdengar azan Subuh.

Karena wudhu dari hotel masih aman, saya langsung mencari tempat untuk sholat. Selesai sholat, jas hujan sekali pakai yang tadi saya bawa kemudian saya oper kepada runner lain yang juga masih membutuhkan alas untuk sholat.

Selesai urusan dunia dan akhirat, tinggal satu urusan lagi: lari 21 kilometer.

Saya kemudian masuk ke starting lane.

Peserta Half Marathon ternyata cukup banyak. Saya mendapatkan coral bagian belakang, dan karena jumlah pelari yang cukup ramai, ketika race resmi dimulai pun saya belum langsung melewati garis start.

Kalau tidak salah, saya baru melewati garis start sekitar tujuh menit setelah waktu start resmi.



Ini salah satu hal yang harus diperhitungkan kalau targetnya mendekati COT. Jam lomba memang sudah dimulai, tetapi kita masih sibuk jalan kaki menuju garis start.

Begitu akhirnya bisa berlari, saya memilih pace santai. Suasana BSD pagi itu masih remang-remang dan justru cukup menyenangkan untuk dinikmati. Tidak terlalu panas, jalanan dipenuhi pelari, dan suasana race setelah cukup lama tidak ikut lomba terasa menyenangkan.

Saya tidak buru-buru.

Target awal memang hanya menjaga pace dan menikmati race.

Sampai kemudian masuk kilometer 8.

Di sekitar kilometer 8, saya mulai merasa asam lambung naik.

Nah, ini bagian yang memang sudah saya antisipasi sejak awal.

Karena punya pengalaman dengan GERD, saya tidak mau mengambil risiko. Selain rutin minum air dan elektrolit di hydration point, saya juga membawa Polysilane dan mengonsumsinya ketika gejala mulai terasa.

Pagi itu akhirnya satu botol habis.

Setelah itu saya mencoba tetap melanjutkan lari dengan pace yang nyaman. Kondisi masih terkendali, tetapi tentu saja fokus sedikit berubah. Kalau pelari lain mungkin sibuk menghitung kilometer, saya juga sibuk memastikan lambung tidak membuat keputusan sendiri.

Untungnya kondisi masih bisa dikendalikan dan saya bisa melanjutkan race.

Untuk urusan dukungan di sepanjang rute, menurut saya sebenarnya cukup baik. Ada beberapa titik yang menyediakan cheers dan suasananya membantu membuat race terasa lebih hidup.

Tetapi kalau boleh jujur, saya merasa masih bisa lebih ramai lagi.

Mungkin karena saya membandingkannya dengan beberapa race lain yang pernah saya ikuti. Ada race yang sepanjang jalan benar-benar terasa seperti sedang didukung satu kota. Di BFI RUN, menurut saya atmosfernya sudah oke, tetapi masih ada ruang untuk dibuat lebih meriah.

Sementara itu, saya sendiri malah cukup sibuk dengan podcast.

Ini keputusan yang kemudian hampir menjadi masalah.

Karena terlalu menikmati podcast dan suasana lari, saya tidak terlalu memperhatikan pace. Saya berlari cukup santai dan merasa semuanya aman-aman saja.

Sampai pada satu titik saya melihat waktu.

Kemudian baru sadar:

“Wah, kalau pace segini bisa kena COT.”

Padahal target awal cuma finish.

Ternyata untuk sekadar finish pun harus memperhatikan waktu.

Setelah sadar bahwa waktu mulai menjadi persoalan, saya mulai menaikkan pace sedikit demi sedikit.

Tidak bisa langsung gas seperti orang yang sedang mengejar podium karena jaraknya masih cukup jauh dan kondisi lambung juga harus dijaga. Jadi pace dinaikkan secara bertahap sambil tetap melihat kondisi badan.

Di sini baru terasa bahwa start tujuh menit setelah waktu resmi ternyata cukup berpengaruh.

Waktu memang terus berjalan sejak race dimulai.

Saya mulai menghitung kira-kira pace yang diperlukan supaya bisa finish sebelum COT. Untungnya kondisi badan masih memungkinkan untuk sedikit mempercepat lari.

Jadi mulai dari sini, mode santai sambil menikmati podcast perlahan berubah menjadi mode “kayaknya kita harus kerja sedikit nih.”

Dan ternyata benar, saya berhasil menyelesaikan Half Marathon dengan waktu beberapa detik sebelum COT.

Jadi kalau target awalnya adalah sekadar finish, target tersebut berhasil dicapai.


AFTER RUN EVENT

Setelah melewati garis finish, proses mengambil medal dan finisher jersey berjalan lancar.

Karena berhasil finish sesuai COT, saya mendapatkan finisher medal dan finisher jersey. Memang salah satu hal yang menarik dari BFI RUN adalah finisher jersey untuk kategori Half Marathon, selain medali yang menjadi oleh-oleh wajib setiap race.

Di area setelah finish juga masih ada bazaar makanan dan beberapa booth. Kami mendapatkan voucher makanan yang bisa digunakan di area tersebut.

Tapi kali ini tidak bisa terlalu lama menikmati suasana after race.

Kami harus segera kembali karena masih ada agenda berikutnya: ke bandara.

Jadi setelah mendapatkan medal, jersey, mengambil makanan secukupnya, dan memastikan semua barang aman, kami langsung meninggalkan venue.


KESIMPULAN

Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan BFI RUN 2026.

Dari sisi pendaftaran, prosesnya relatif lancar meskipun tetap harus ikut antrean online. Harga HM Rp649 ribu menurut saya masih cukup masuk akal. Race pack collection juga bukan sekadar tempat mengambil BIB karena ada bazaar dan booth yang bisa dinikmati peserta.

Venue di ICE BSD juga cukup nyaman dan aksesnya relatif mudah. Saya juga suka karena akhirnya bisa sekalian membuat agenda kecil bersama Bu Dhila: menginap di BSD, race pagi-pagi, lalu lanjut perjalanan.

Untuk race itself, jumlah peserta Half Marathon cukup banyak sehingga coral belakang membuat saya kehilangan sekitar tujuh menit sebelum benar-benar melewati garis start. Ini perlu diperhitungkan kalau ada peserta yang punya target waktu cukup ketat.

Hydration point juga tersedia dan kebutuhan dasar selama lomba terpenuhi. Cheers menurut saya cukup, meskipun masih bisa dibuat lebih ramai untuk menambah atmosfer.

Photo official dari penyelenggaranya juga ok-ok, walaupun gak terlalu banyak dan Fotoyu juga lebih keren. Tapi saya gak ada check out Fotoyu karena cukup mahal ya. 

Dari sisi pribadi, race ini juga menjadi pengalaman menarik karena saya harus mengatur banyak hal yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan lari: tidur setelah Maghrib, bangun pukul 03.00, memastikan bisa sholat Subuh di venue, mengelola GERD selama race, sampai akhirnya mengubah pace karena sadar bisa terkena COT.

Dan yang paling penting, setelah cukup lama tidak ikut race, akhirnya saya kembali berdiri di starting line dan berhasil menyelesaikan Half Marathon lagi.




Tidak ada PB.

Tidak ada target muluk.

Bahkan sempat hampir kejar-kejaran dengan COT.

Tapi selesai juga.

BFI RUN 2026: 21,1K selesai.

Untuk race ini, saya kasih 4/5.

Dan kalau tahun depan jadwalnya cocok lagi?

Kayaknya ikut lagi. 😄

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.