Sotoy Riview : Dompet Ayah Sepatu Ibu oleh JS Khairen
Jujur, saya membeli novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karena menonton podcast Praz Teguh bersama J.S. Khairen, sih.
Saya sebenarnya sudah cukup lama tahu novel ini. Saya juga sadar bahwa novel karya J.S. Khairen ini termasuk bestseller dan sudah beberapa kali cetak ulang. Namun, entah kenapa, saya belum juga tertarik untuk membaca atau membelinya. Novel Bang JS terakhir yang saya baca adalah Melangkah, yang menurut saya keren juga.
Sampai akhirnya, dalam podcast tersebut, J.S. Khairen bercerita bahwa novel Dompet Ayah Sepatu Ibu akan diangkat menjadi film layar lebar. Dari sekian banyak novelnya, justru novel ini yang lebih dulu mendapatkan kesempatan tersebut. Saya jadi penasaran, apa sebenarnya yang membuat cerita ini istimewa hingga dipilih untuk diadaptasi ke layar lebar? Berangkat dari rasa penasaran itulah, akhirnya saya memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini.
Secara penulisan, Dompet Ayah Sepatu Ibu masih terasa sangat khas J.S. Khairen. Gaya kalimatnya yang panjang dengan beberapa anak kalimat masih terasa, begitu juga dengan pilihan kata dan nuansa Melayu yang menjadi ciri khasnya. Namun, dibandingkan dengan beberapa novel sebelumnya yang pernah saya baca, penulisan di novel ini terasa lebih dewasa dan renyah.
Alur ceritanya juga enak diikuti. Pace-nya pas untuk membaca sambil membayangkan kejadian demi kejadian yang diceritakan. Saya bisa menikmati bagaimana cerita berkembang tanpa merasa harus terburu-buru menyelesaikan setiap bagian. Hanya saja, ada sedikit hal yang mengganjal di bagian akhir. Pace cerita terasa bergerak cukup cepat, sementara beberapa titik penting justru menurut saya membutuhkan penjelasan yang lebih panjang. Rasanya ada beberapa bagian yang masih bisa digali lebih dalam agar penutup ceritanya terasa lebih kuat.
Ada satu hal lain yang cukup menarik perhatian saya, yaitu detail tentang klub sepak bola di Sumatera Barat.
Memang, latar waktu cerita dalam novel ini tidak disebutkan secara eksplisit. Namun, dari beberapa petunjuk yang ada, saya menangkap bahwa kisahnya berlangsung pada penghujung milenium kedua. Dalam novel ini, diceritakan bahwa sang Ayah melakukan reportase pertandingan Semen Padang FC di Lapangan Imam Bonjol. Lokasinya benar. Namun, penyebutan nama klubnya terasa sedikit janggal bagi saya.
Pada masa itu, klub sepak bola yang dikelola PT Semen Padang dikenal dengan nama PS Semen Padang, singkatan dari Persatuan Sepak Bola Semen Padang. Nama Semen Padang FC baru digunakan pada awal era Liga Indonesia di tahun 2000-an. Jadi, ada sedikit ketidakcocokan detail waktu dan nama klub di bagian tersebut. Namun, ya, tidak apa-apa. Ini hanya catatan kecil dari pembaca yang kebetulan cukup mengikuti sepak bola Sumatera Barat.
Hal lain yang membuat novel ini terasa dekat bagi saya adalah latar tempatnya. Saya lahir dan besar di Padang Panjang, kota yang berada di lereng Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Jadi, ketika membaca bagian cerita yang berkaitan dengan kota ini, ada semacam kedekatan tersendiri yang sulit dijelaskan.
Salah satu detail yang paling menarik perhatian saya adalah sekolah keguruan tempat sang Ayah bersekolah. Gedung yang digambarkan dalam cerita tersebut merupakan gedung yang sama dengan gedung SMA tempat saya bersekolah dulu. Bedanya, gedung itu sudah berpindah kepemilikan, dari sekolah keguruan menjadi bagian dari SMAN 1 Padang Panjang. Rasanya cukup menyenangkan ketika membaca sebuah novel, lalu menemukan tempat yang ternyata punya hubungan dengan kehidupan sendiri.
Secara keseluruhan, saya menikmati Dompet Ayah Sepatu Ibu. Novel ini masih membawa ciri khas penulisan J.S. Khairen, tetapi terasa lebih matang dan nyaman diikuti. Meski ada beberapa bagian akhir yang menurut saya bisa dikembangkan lebih jauh, hal tersebut tidak mengurangi pengalaman membaca secara keseluruhan.
Sekarang saya justru semakin penasaran dengan adaptasi filmnya. Apakah suasana, karakter, dan detail-detail lokal yang terasa kuat dalam novelnya bisa diterjemahkan dengan baik ke layar lebar?
Kita tunggu saja filmnya. Semoga hasilnya sepadan dengan pengalaman membaca novelnya.
Versi goodreads.com : https://www.goodreads.com/book/show/197081629-dompet-ayah-sepatu-ibu


Tidak ada komentar: