Jalan Sendiri : sepatu di Guangzhou
Sesi kelas dan kunjungan lapangan tentu jadi bagian favorit saat ikut training ke luar negeri. Tapi jujur saja, menghabiskan waktu kosong untuk sekadar jalan santai, cuci mata, atau cari oleh-oleh juga tidak kalah menyenangkan. Justru di momen seperti ini sering muncul pengalaman-pengalaman kecil yang berkesan.
Ini adalah sedikit side story saya dari perjalanan ke Guangzhou dan Beijing untuk training SME for RE tahun 2025 yang lalu.
Guangzhou sendiri adalah kota yang sangat modern, dengan gedung tinggi dan ritme hidup yang cepat. Tapi di sela itu, ada juga area-area yang hidup dan enak buat dijelajahi dengan santai. Salah satunya di sekitar Jixiang Road, kawasan yang dipenuhi deretan toko kecil dengan suasana mirip citywalk. Dari jalan santai tanpa rencana di area inilah, saya akhirnya menemukan satu toko sepatu yang… agak beda.
Dari luar sebenarnya terlihat seperti toko sepatu biasa. Tidak terlalu besar, tapi display-nya rapi dan koleksinya cukup banyak. Tapi begitu saya perhatikan lebih dekat, ada sesuatu yang bikin saya berhenti agak lama di depan raknya.
Desainnya familiar.
Sangat familiar malah.
Ada sepatu yang sekilas terlihat seperti Adidas, ada yang mirip Puma, dan beberapa model yang vibes-nya seperti ASICS dan New Balance. Awalnya saya pikir, “oh ini pasti barang KW.”
Tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Setelah saya lihat lebih dekat, semua sepatu di toko itu menggunakan brand mereka sendiri. Tidak ada logo atau nama brand besar yang ditempel. Tapi desainnya jelas “terinspirasi”—atau mungkin lebih tepatnya plesetan—dari brand-brand ternama tersebut.
Yang menarik, mereka tidak mencoba meniru secara persis. Tidak ada upaya untuk “menipu” secara langsung. Tapi cukup dekat untuk membuat orang langsung sadar referensinya.
Di titik itu saya jadi mikir.
Ini sebenarnya masuk kategori apa ya?
Lebih ke… “interpretasi kreatif” dari brand besar 😄
Fenomena seperti ini menarik kalau dilihat dari sisi copyright dan desain. Sejauh mana sebuah produk bisa dibilang “terinspirasi” tanpa dianggap melanggar? Apakah cukup dengan mengganti logo? Atau sebenarnya ada batasan lain yang lebih kompleks?.
Saya tidak punya jawaban pastinya. Tapi pengalaman kecil ini cukup membuka perspektif.
Bahwa di dunia produk dan branding, tidak semuanya hitam-putih.
Ada ruang abu-abu yang ternyata cukup luas, dan di situlah kreativitas—dan mungkin juga kontroversi—bermain.
Saya tidak jadi beli sepatu waktu itu. Lebih karena belum butuh saja. Tapi pengalaman menemukan toko seperti ini di tengah perjalanan singkat, justru jadi salah satu highlight yang tidak direncanakan.
Kadang, memang yang tidak direncanakan itu yang paling diingat.
Mungkin lain kali kalau ke Guangzhou lagi, saya akan mampir ke sana lagi. Siapa tahu, kali ini pulang bawa sepasang 😄.
See you again, Guangzhou. 🇨🇳



Tidak ada komentar: