Welcome Ramadhan, Goodbye Interne!

Monday, May 21, 2018

Alhamdulillah, tahun ini bisa bertemu lagi dengan Ramadhan. Harapan saya sederhana saja, apa-apa yang tidak tercapai di Ramadhan sebelumnya harus tercapai di Ramadhan ini. Ramadhan tahun sebelumnya saya cukup (sok) sibuk karena dihabiskan di tempat KKN dan di Sapporo. Selama di Sapporo saya dan teman-teman harus kuat-kuat nahan diri dari godaan es krim Sapporo di musim panas yang katanya enak banget dan dari bento-bento yang dikasih panitia yang bentukannya cantik banget (Jepang emang terkenal sama packagingnya yang oke kan ya?). Tapi Alhamdulillah itu ngga menghalangi dan ngga berhasil meruntuhkan benteng pertahanan kami. Haha.

Alhamdulillah Interne juga berakhir. kata orang sih kalau udah lewat anak, interne dan neuro berarti koasnya udah kelar. Katanya tiga itu yang paling berat. Eh, ada satu lagi deh, THT. Alhamdulillah THT, anak, interne udah lewat. Meski hasil ujian interne belum keluar, tapi keluar dari interne itu rasanya bahagia, Haha. Sebagian orang sih bilang saya cukup beruntung karena siklus-siklus berat dapatnya di awal dan masih menyimpan siklus-siklus yang ngga berdinas di akhir (PH, kulit, radiologi). Ini baru namanya bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Tapi perjalanan masih panjang. Post ujian kemarin saya dan ujian-mate yang juga dinas-mate sekaligus ilmiah-mate, sempat diskusi, topiknya hal yang biasa didiskusikan diantara dokter muda, abis lulus mau ngapain?
A: Aku mau ambil spesialis rehab medik ted.
B: Why?
A: Biar ngga sibuk-sibuk amat, biar masih bias nganter jemput anak sekolah. Kalau kamu?
B: Aku mau ambil S2, mau jadi dosen, mau jadi peneliti. Pagi-pagi ngga harus buru-buru ke rumah sakit, bisa bikinan anak bekal.
A: Ide bagus tuh. Jam 2 atau 3 udah pulang.
B: Malamnya bisa bantuin anak bikin PR. Jam 9 udah marah-marah nyuruh tidur. Haha
A: Hidup kaya gitu damai kali yaaa.

Dan kami tertawa, teringat orang tua masing-masing, bagaimana mama marah-marah nyuruh tidur, nyuruh belajar, nyiapin bekal untuk sekolah dll. Terus akhirnya percakapan visioner itu berujung pada rasa kangen rumah. Beruntung, saya cuma dua jam nyampe padang panjang. Teman saya? Harus naik besi terbang dulu baru nyampe rumah.

Terus kesimpulannya apa? Ngga ada, intinya kami ngga mau jadi internist. Titik.

-------------
diposting di tedafaadhila.tumblr.com pada 28 May 2017

No comments:

Powered by Blogger.