Sholat Jumat di Nagoya Jepang

Februari 22, 2026

Awal tahun 2025 lalu, Alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk mengikuti training di Kota Nagoya, Prefektur Aichi, Jepang. Cerita tentang training ini sebenarnya sudah saya tulis menjadi dua blog terpisah di tahun 2025. Namun seperti biasa, khusus di bulan Ramadhan, rasanya selalu ada dorongan untuk berbagi pengalaman yang lebih “spiritual”. Kebetulan, pengalaman ini belum pernah saya tuliskan sebelumnya.












Selama mengikuti training di Nagoya, saya sebenarnya melewati dua hari Jumat. Sayangnya, di Jumat pertama saya tidak bisa melaksanakan sholat Jum’at karena agenda training masih sangat padat dan berlangsung hingga siang hari. Baru pada Jumat kedua saya mendapatkan kesempatan. Hari itu merupakan hari terakhir training, dengan agenda presentasi akhir. Alhamdulillah, saya sudah menyelesaikan sesi presentasi di pagi hari, sehingga siangnya relatif lebih longgar.



Sejak beberapa hari sebelumnya, saya sudah mencoba mencari informasi mengenai pelaksanaan sholat Jum’at di Nagoya. Dari hasil mencari-cari, saya menemukan bahwa salah satu masjid yang rutin menyelenggarakan sholat Jum’at adalah Masjid Nagoya, yang berlokasi di kawasan Honjintori. Lokasinya tidak terlalu jauh dari JICA Center, tempat kami mengikuti training. Waktu tempuhnya kurang lebih sekitar 25 menit, terdiri dari sekitar 10 menit naik KRL dan dilanjutkan dengan 15 menit berjalan kaki.



Setelah memastikan jadwal, saya meminta izin kepada liaison officer kami untuk pergi ke masjid dan sedikit terlambat kembali setelah sholat Jum’at. Alhamdulillah, izin diberikan tanpa kendala.



Saya berangkat sekitar pukul 12.15 dan tiba di masjid kurang lebih pukul 12.40. Waktu adzan Zuhur sebenarnya sudah masuk sekitar pukul 12.00, sehingga saya memang datang agak mepet. Masjid Nagoya ini cukup mudah ditemukan. Dari luar, bangunannya tampak sederhana, menyerupai ruko. Lantai pertama digunakan sebagai tempat wudhu dan ruang administrasi, sementara lantai dua dan tiga difungsikan sebagai ruang sholat. Ruangan sholatnya tidak terlalu besar, kira-kira hanya memuat sekitar empat shaf jamaah.






Ketika saya tiba, khatib sudah mulai menyampaikan khutbah. Khutbah disampaikan dalam bahasa Arab dan Jepang. Saat saya masuk ke ruang sholat, khatib sudah berada di bagian akhir khutbah pertama dan tidak lama kemudian memasuki khutbah kedua. Tak berselang lama, sholat Jum’at pun dimulai.



Secara sepintas, jamaah yang hadir terlihat sangat beragam. Banyak wajah Asia Timur, Asia Tenggara, dan juga Timur Tengah. Meskipun berada di negara minoritas Muslim, suasana sholat Jum’at tetap terasa khidmat dan hangat, dengan kebersamaan yang khas.



Total waktu yang saya habiskan di masjid tidak lama, mungkin hanya sekitar tujuh menit sejak tiba, melaksanakan sholat, hingga keluar kembali dari masjid. Singkat, sangat singkat. Namun justru di situlah letak kesannya.



Pengalaman ini sederhana, bahkan bisa dibilang tidak ada hal yang “wah”. Tidak ada kajian panjang, tidak ada perbincangan mendalam. Namun bisa melaksanakan sholat Jum’at di negeri orang, di tengah keterbatasan waktu dan tempat, tetap memberikan rasa syukur tersendiri. Sebuah pengalaman yang menyenangkan, meskipun tidak banyak hal baru yang dipelajari, tetapi cukup untuk diingat.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.